

‘Ala bisa karena biasa’ dan
Practise makes perfect merupakan
dua ungkapan dari dua bahasa yang berbeda tetapi memiliki nuansa makna
yang mirip. Keduanya memiliki paradigma bahwa suatu tindakan akan
teraplikasi dengan baik ketika tindakan itu dijadikan suatu kebiasaan.
Kebiasaan akan menjadi hal yang baik ketika dipandu dan diarahkan dengan
benar. Sekolah saat ini mengemban tugas mulia yaitu tidak hanya
mendidik para muridnya
hardskill tetapi juga
softkill. Paradigma
pembelajaran yang sebelumnya lebih menekankan pada apa yang perlu
dipelajari murid telah beralih pada bagaimana belajar. Dalam kaitannya
dengan pembelajaran karakter, khususnya karakter bangsa, pembiasaan
merupakan cara yang dinilai efektif dan efisien bagi para murid. Dengan
menerapkan pembiasaan yang dilihat dan ditiru dari sekolah, terutama
para guru, murid akan langsung memahami dan menilai karakter yang baik
dan benar. Guru merupakan agen perubahan dan dalam hal pembelajran
karakter, guru terletak pada garis depan dan oleh karenanya guru
diharapkan dapat menjadi role model bagi para muridnya. pendidikan
karakter menanamkan kebiasaan (
habituation) tentang hal mana yang
baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang
benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa
melakukannya (psikomotor). Dengan kata lain, pendidikan karakter yang
baik harus melibatkan bukan saja aspek “pengetahuan yang baik (
moral knowing)”, akan tetapi jug
loving good (
moral feeling)”, dan “perilaku yang baik (
moral action)”.
Post a Comment